Karya Anak Coret

PERSAHABATAN APPARTHEID

Posted by: komunitascoretjogja on: Juli 3, 2008

Dalam kerumunan orang, aku mencoba menyusup masuk dan mengetahui apa yang menjadi perhatian mereka. Setelah berhasil melakukannya, aku dibuat terkejut oleh sesosok perempuan yang terkapar tak berdaya. Awalnya aku pikir dia pingsan. Namun, ketika kusentuh urat nadi yang menjalar transparan di pergelangan tangannya, saat itu juga aku sadari, bahwa ia telah tiada.

Seorang polisi kemudian menutupi wajah mayat itu dengan selembar koran. Mengamati sebentar, lalu menyuruhku menghindar dari tubuh kaku itu. Tapi, sebelum berdiri kuberanikan menyibak koran itu. Astaga! Wajahnya begitu mengenaskan. Kulit putihnya membiru. Darah yang mengalir dari hidung dan telinganya mulai mengering. Seseorang mengatakan bahwa ia jatuh dari lantai tiga apartemennya.

“Tunggu …!. Aku pernah melihat wajah ini. Matanya, mata itu…aku sangat mengenalnya. Dia, dia Regina!” teriakku spontan.

“Anda kenal mayat ini?” tanya polisi tadi.

“Saya..ss..saya tidak tahu. Sungguh! Permisi.”

Cepat-cepat kutinggalakan tempat itu. Aku berlari membawa pengakuan yang takut untuk aku katakan. Aku pengecut. Aku terus berlari sampai kakiku lelah. Aku tak tahu kapan dan di mana kaki ini akan berhenti.

Akhirnya aku memasuki sebuah gang, lalu berhenti. Tubuhku terduduk. Nafasku terengah-engah. Lelah. Tiba-tiba tangisku meledak. Aku berteriak sekuatnya. Sebuah teriakan yang menyalahkan diri sendiri. Sangat dalam. Sangat menyakitkan.

Namun, aku segera menyadari bahwa tangisku ini tak ada gunanya. Aku memang pengecut. Tak lama kemudian tangisku terhenti oleh banyangan manusia yang muncul dari ujung gang. Semakin lama bayangan itu semakin membesar. Perlahan-lahan mulai nampak sekerumunan orang. Sesekali diselingi tawa dan teriak. Semula aku berpikir mereka sedang bermain. Akan tetapi, salah satu dari mereka tiba-tiba mendorong seseorang dari yang lain. Dia terjatuh. Seorang gadis berkulit hitam.

“Heh, ngapain lo di sini?” bentak salah satu dari mereka.

“Aku cuma main di sini. Ini kan taman kota dan bebas untuk siapa saja,” jawab gadis berkulit kulit hitam yang terjatuh itu.

“Oh… berani banget lo!” kata orang yang medorong tadi. Dia juga seorang perempuan.

“Hey, Laura! Sudah, biarkan saja dia di sini,” kata yang lainnya.

Lo jangan pernah mimpi bisa gabung dengan kita,” kata Laura sambil mendorong jidat gadis kulit hitam dengan telunjuknya.

“Kenapa?!” teriak gadis berkulit hitam itu.

“Kenapa? Lo lupa ya sama politik appartheid? Please, deh!!” katanya sambil berlalu. Mereka pun pergi meninggalkan gadis berkulit hitam tadi.

Appartheid. Kata itu telah mengingatkan kembali memori yang tak jauh berbeda dengan apa yang kulihat sekarang. Akan tetapi, itu sudah lama kulupakan. Ya, appartheid. Sebuah kata yang bermakna politik perbedaan ras kulit. Politik yang membedakan aku yang berkulit hitam dengan mereka yang berkulit putih. Di antara kami terjadi banyak perbedaan wewenang, kebebasan, dan jarak. Orang–orang kulit hitam selalu ditindas, selalu disalahkan. Meskipun kami sendiri tidak merasa melakukan kesalahan. Hidup di lingkungan yang sama, tapi perlakuan yang berbeda nyaris menjadi santapan sehari-hari. Apakah kulit hitam adalah kutukan? Itulah yang menjadi renunganku selama ini.

Dulu aku pernah merasakan apa yang dirasakan oleh gadis kulit hitam itu. Masa-masa itu yang mengingatkanku kembali tentang seseorang. Seseorang yang begitu tulus kebaikannya.

Waktu itu masa orientasi siswa. Sebuah budaya yang terkenal sebagai ajang untuk menggojlok para junior oleh seniornya. Aku yang junior mau nggak mau harus rela jadi salah satu korban penggojlokan itu. Tidak cuma itu, ras kulit hitam yang menurun padaku telah memperparah nasibku sendiri. Tapi, seseorang yang bahkan tak satu ras denganku dengan bijaknya menghentikan semua perlakuan senior terhadapku.

“Hey!” kataku.

“Ya…” ia tersenyum ramah.

“Mengapa menolongku?”

“Memangnya kenapa?”

“Bukankah aku dan kamu berbeda?”

“Oh, begitu.” katanya dengan lembut. “Aku nggak pernah mikirin itu semua, karena kupikir aku dan kamu sama-sama manusia. Apabila teman butuh pertolongan dan aku ingin menolongnya dengan tulus, apakah itu salah?”

Aku diam seribu bahasa. Ia mendekatiku dan mengulurkan tangannya.

“Aku Regina… kamu?”

“A..aku Julia” jawabku seraya menyambut tangannya.

“Mulai sekarang kita berteman, ok?” ucapnya dengan senyum ceria.

“Ok..” jawabku. Senyumku pun terkembang. Sejak saat itu kami selalu bersama. Walaupun banyak mata memandang tak suka, kami tidak peduli. Akan tetapi, aku takut kalau Regina bosan dan ingin kembali dengan teman-temannya yang mulai menjauhi kami.

“Hey, Jul, kenapa bengong? Ada yang pengen kamu omongin sama aku?” lamunanku buyar oleh katanya. Barangkali inilah saat yang tepat untuk menanyakan perasaanku.

“Gini Re…” tiba-tiba kata-kataku tersendat. Aku takut ia tersinggung.

“Apa, hey? Kok diem?”

“Ah, nggak apa-apa. Aku cuma…” Matanya menatapku penuh perhatian. “Tidak. Lupain saja.!” lanjutku.

“Mendingan kamu tulis aja apa yang pengen kamu omongin, lalu baru kamu kasih ke aku. Nah, kalo kayak gitu kamu nggak bakal nyinggung aku. Setuju?!”

Aku pengen nangis. Ternyata aku punya seorang sahabat yang pengertian. “Tapi Re.. bukannya tulisan itu bisa direkayasa?”

“Kamu sahabatku dan aku percaya kamu. Aku mau kasih tau kamu sesuatu” Aku menganggukkan kepala, dan mendengarkannya.

Kadang dalam tiap tulisan, nggak bisa mewakili segalanya..

Kadang dalam tiap ucapan, itulah yang meyakinkan..

Sebuah tulisan kadang dianggap bualan semata..

Sebuah tulisan kadang dianggap sebagai rekayasa biasa..

Dan mereka yang melihat, membacanya..

Dan mereka yang membaca, mendengarnya..

Dan mereka yang mendengar, meresapinya dan bertanya “Apa makna tulisan itu, siapakah tuannya?”..

Karena… Walaupun tanpa judul, tanpa nama pemilik

Sesungguhnya setiap tulisan itu bertuan

Dan

Untuk si tuan menulis tulisan itu yang terbaik ketika sebuah rasa

Sulit untuk diungkapkan dengan ucapan kata-kata..

“Jadi semua itu kita kuatkan dengan ikatan persahabatan kita, karena sahabat harus saling percaya.” Regina memelukku. Aku tak kuasa menahan air mataku.

Thanks, Re. Dengan kekuatan yang kau berikan untuk menghadapi esok, aku akan melangkah menapaki hari. Selangkah demi selangkah, agar kelak dapat menjadi sosok yang berarti bagi seseorang”.

“Janji yaa…kita akan jadi tetep sahabat sampai Tuhan bener-bener kasih akhir buat itu semua? Dan apapun fakta hidup yang ada diantara kita nggak akan mengubah semuanya.” kata Regina.

“Ayo janji ludah.” usulku.

“Ok!!!” ucap Regina menyetujui.

“Cuuihh….” kami berdua meludah di tangan kami masing-masing dan menyatukan ludah itu dengan bersalaman mantap.

***

Kuhapus air mataku. Lalu berlari terus ke arah dimana kutemukan jasad sahabatku tadi.

Karya : Erlin Satya Rini (MA Ali Maksum)

Tinggalkan Balasan

Sketsa…

Komentar Terakhir

leo di Puisi
ipah di Tabik…
o0b thEA di Esai
fajri di PERCAYA
fajri di Cerpen

Blog Stats

  • 2,977 hits

 

Juli 2008
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Penunjuk waktu…

obj=new Object;obj.clockfile="0028-blue.swf";obj.TimeZone="NZT";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);