Karya Anak Coret

Cerpen

Sebuah cerita dalam cerita

Atributed to gadis maya

Kawan, kuharap kau mau mendengar ceritaku ini. Ini cerita tentang aku. Tidak begitu baik untuk dijadikan sebuah naskah drama atau jadi pemenang lomba cerita. Tapi perlu kau tahu kawan, cerita ini dapat membuatku menitikkan air mata Dan, jangan sekali-kali kau bersuara ketika aku berada dalam pertengahan cerita karena itu bisa memuat diriku lupa! Lupa akan kelanjutan dan lupa, sampai dimana aku bercerita. Biarkan aku mengalir seperti air, berhembus bagaikan angin dan tenggelam dalam lautan. Aku akan mulai bercerita untukmu:

Apa kau masih ingat tentang dongeng yang kuceritakan tempo hari padamu? Dongeng tentang seorang anak perempuan yang hidup sendiri. Ya, sendiri. Dalam rumah hanya ada dirinya dan foto ibunya. Apa kau masih ingat? Anak itu selalu menaruh sajadah disampingnya ketika sholat berjamaah di mushala. Dan tak mengijinkan orang lain menempati sajadah itu, walaupun sajadah itu kosong.Ia sengaja melakukannya, entah dengan tujuan apa. Demikianlah, setiap kali jamaah di mushala, akan tampak saru sajadah yang kosong.

Kawan, Apa kau masih ingat ketika anak itu makan? Ia selalu menyediakan satu piring di depannya. Tapi piring itu dibiarkan kosong. Tidak diberi apapun. Sayur, nasi, lauk pauk tidak ada. Untuk dirinya sendiri saja persediaan makan tak cukup. Tapi ia selalu menyediakan piring kosong itu.

Apa kau masih ingat lagi ketika gadis itu tidur? Dalam kamar itu, ia tempatkan sebuah perlengkapan tidur lengkap. Meski sepanjang sisa malam tak ada seorangpun terlihat berbaring di ranjang itu.

Tapi untuk siapa semua itu ia lakukan? Ia mempersembahkannya untuk seseorang yang biasa dipanggil ibu. Ya, ibunya, yang telah lama pergi. Pamitnya hanya untuk cari kayu bakar tapi sampai sekarang belum kembali. Anak perempuan itu terus menunggu, kawan. Menunggu sesuatu yang telah hilang. Tapi baginya, ia tetap ada.

*****

Seperti aku juga yang terus mengingatmu. Kubiarkan diriku mengembara menelisik setiap potongan kenangan kisah kita. Kubiarkan sudut hatiku kosong, sebab itu adalah tempatmu. Dan akan kubiarkan kosong, sebab ku tak lagi mampu menghadirkan sosok lain untuk menggantikan dirimu di sudut itu.

Apa kau masih ingat? Ketika itu kita berada dalam satu kelas duduk bersebelahan. Kita bercanda, tertawa dan nyontek bareng. Tapi, ada satu masa dimana aku sangat benci bila aku duduk bersebelahan denganmu. Ya, saat pelajaran itu tiba, pelajaran yang mengatakan kebenaran itu relatif. Pelajaran yang selalu mendoktrinmu. Kau begitu terpukau olehnya. Pikiranmu terpaku, dan segera saja kau jadi sosok yang begitu asing bagiku, namun sekaligus begitu aku inginkan. Kau bahkan tak sempat tengokkan wajahmu kepadaku. Aku sapa kau, kau hanya diam. Kau hanya memperhatikan guru yang sok tahu tentang kebenaran itu.

Apa kau masih ingat? Bila pelajaran itu selesai kau baru menengokkan wajahmu dan memberikan seutas senyuman manis padaku. Tahukah kau? Aku menunggumu satu setengah jam-yang serasa sekian abad bagiku- hanya untuk bisa ngobrol, bercanda dan hanya untuk menceritakan keluhku pada hari itu. Aku akui, aku tak bisa membiarkan dirimu berpaling dan memperhatikan orang lain. Karena itu membuatku sakit. Sangat sakit. Dulu kau pernah membuat diriku sakit, hingga aku terjatuh dan untuk berdiri aku tak mampu. Tapi, biarlah. Cerita itu sudah berlalu, tak perlu aku ungkit padamu.

Kau pernah menyuruhku untuk membuatkan sebuah puisi. Setelah kutanya puisi tentang apa, kau menjawab puisi tentang nasionalisme. Tentang pengenangan untuk para pahlawan yang mati dan untuk penyemangati kaum muda. Ketika itu, aku buatkan sebuah puisi untukmu. Aku ingat tiap penggalan katanya;

….Dan baru kemarin kata-kata itu terucap,

Dan baru kemarin tetesan darah itu mengucur,

Teman…

Kibaran, nyanyian dan perayaan tentang merah putihmu

Tak berguna tanpa pengorbananmu seperti mereka;

….belum apa-apa dan belum selesai

Kenangan

Tentang darah dan ribuan nyawa itu

Puisi itu kau baca ketika malam inagurasi dan refleksi hari pahlawan. Hal itu tanpa sepengetahuanku sebelumnya. Kau mengundangku untuk datang ke acara tersebut. Aku datang. Kau memberikan sebuah kejutan itu. Kau membacanya dengan menangis. Sangat indah. Aku masih ingat hal itu.

Dan hari itu datang juga. Ini adalah akhir dari ceritaku kawan.

Kau menyuruhku untuk berteriak sekeras-kerasnya di sebuah tanah lapang. Katamu, berteriak dapat membuat hilang segala kegundahan. Rasa gelisah akan menguap seiring suara keras yang keluar dari rongga mulutmu. Aku percaya saja. Aku berteriak. Kencang, Kencang sekali. Hingga semua orang mendengar teriakanku yang tak ada lagu dan nadanya.

Tapi, setelah aku berteriak. Aku tak melihatmu di sebelahku. Waktu itu, aku takut sekali. Aku takut kamu hilang. Aku takut dimarahi orang tuamu, karena tak bisa menjaga dirimu. Seketika itu aku terjatuh, menunduk dan menangis. Dan, kutemukan dirimu terbaring di belakang kakiku. Kamu terbaring bersama senyum simpul khasmu. Aku memelukmu dan berbicara padamu, kemana kamu ketika aku berteriak, tadi? Kau tak menjawab pertanyaanku, kau hanya bertahan dengan senyumanmu. Aku bangunkan dirimu. Kau tak bergerak sama sekali. Aku memelukmu lebih erat dan erat sekali. Aku tak sadar bahwa kamu telah hilang. Hilang dari kehidupan dan hilang bersama kenanganku. Seketika itu, aku tak mampu berbuat apa-apa. Perasaan kosong segera menderaku, begitu pekat.

Kawan, ceritaku hanya sampai disini. Aku tak mampu lagi berbicara. Apa kau ada pertanyaan tentang ceritaku tadi. Aku tahu, kamu pasti tidak paham siapa “kau atau kamu” dalam cerita itu. Dia adalah seseorang yang mampu membuat diriku lebih paham dan mengerti dirinya lebih dari aku paham dan tahu tentang diriku.

Seketika itu semuanya sunyi. Tak ada suara. Ya, sunyi yang begitu menghantui, tapi juga tak mampu aku untuk melepaskan diri.

Kahai AT

(Siswa MA Wahid Hasyim) [Cerpen Edisi 2, 16-30 Oktober 2005)

Jeding

Dok Dok Dok! “Mbak…. udah rampung belum mandinya?” teriakku sambil duduk di atas gayung tepat di depan kamar mandi. “Ih….. ndak sabaran banget to? Aku kan masih luluran”, sahut Mbak Rahma dengan gaya putri Solo-nya. Cepetan dong Mbak! Mandi aja kok kaya badak berendam.”

“Eh, enak aja! Emang kamu mandinya ndak kaya bebek, po? Bagus…..Bagus! Kamu emang cowok banget kaya nama kamu. Wong cewek kok namanya Bagus, ya pantesan tingkahnya kaya cowok.”

Huh.. lagi-lagi namaku yang disalahin. Namaku Bagus, bukan Indah, Citra, atau Devi. Dan aku sudah sangat terbiasa dengan reaksi orang-orang yang ga ngenakin body pas denger namaku. Mereka tidak bisa berkata semacam: “Oh Bagus ya? Aku Dewi” setelah mendengar namaku. Mereka pasti terlebih dahulu menaikkan sebelah alisnya atau menyunggingkan senyum mengejek plus lirikan geli pada teman di sebelahnya seolah-olah namaku ini: “ Hai Manusia! Tertawalah!” kejadian kaya gini nih, makin merapat frekuensinya waktu aku masih tinggal di kost baru.

Penasaran kan, kenapa namaku kaya nama cowok? Ini semua gara-gara ayahku yang terobsesi dengan anak laki-laki. Tapi sialnya, ibuku yang mirip mesin produksi anak bagi ayahku lima kali berturut-turut melahirkan anak perempuan. Bayangkan, lima kali! Itu sudah 2,5 kali lipat program KB pemerintah loh…! Aku tak tahu kenapa ayahku tidak bersyukur saja menerima lima anak perempuan. Kenapa dia tidak terima ing pandum seperti kata guru PPKn ku yang saking nrimanya sampe’ kering kerontang.

Bukankah aku dan keempat adik perempuanku juga bisa disebut buah hati? Setidaknya itulah yang selalu dikatakan oleh Bu Murti, janda tanpa anak yang rumahnya di ujung gang. Suami Bu Murti itu udah lama meninggal karena kanker. Dan sampe’ sekarang Bu Murti ga nikah lagi, padahal udah 20 tahun menjanda. Oya, gimana sejarahnya aku bisa deket ma Bu Murti? Semuanya bermula ketika ayah memukuliku karena aku membuang koleksi cindilnya (anak tikus). Ya, ayahku memang memelihara cindil, katanya sih untuk obat kuat. Padahal yang butuh obat kuat tuh harusnya Ibu, karena ia harus diperas setiap malam oleh ayah yang berat badannya dua kali lipat badan ibu. Waktu itu aku kelas empat es-de. Setiap kali aku melakukan kesalahan, ayah selalu memukuliku dengan pecut Madura-nya. Aku menahan tangisku karena menangis berarti menyerah, mengaku salah. Padahal aku tidak salah, dan aku tidak boleh menunjukkan kekalahan pada ayah. “Dasar anak perempuan ga becus! Udah untung nggak dibuang”. Beribu makian keluar dari mulut ayah selama memukuliku. Aku terus memejamkan mata menahan air mata, sedangkan ibu dan adik-adikku (masih dua waktu itu) menangis tersedu.

Ayah tidak akan berhenti memukuliku seandainya saja ibu tidak menyembah-nyembah di kakinya. Kalau sudah seperti itu, ayah akan menyimpan kembali pecut Madura-nya dan duduk di kursi belakang sambil menghisap habis sebungkus rokoknya. Asal tahu saja, aku tidak merumuskan profesi yang tepat bagi ayahku selain penghisap dan pecandu mikrophon. Setelah itu, Bu Murti mengendongku dan memberiku sebatang lolly pop yang efeknya sangat ampuh sampai-sampai aku bisa tertawa lagi. Bu Murti sering bilang, “Betapa beruntungnya ayahmu yang dianugerahi putri secantik dan sepintar kamu”.

Tapi aku juga sering mendengar ayah berkata pada Pak Prapto, tetangga sebelah rumah yang keempat anak lelakinya jadi TNI: “Wah … beruntung sekali sampean bisa punya anak laki-laki. Jadi ada yang bisa diandalkan. Ndak seperti anak perempuan yang Cuma bisa nyusahin”. Mengapa harus jadi anak laki-laki dulu baru bisa disayang ayah dengan sepenuh hati? Bukankah aku dan keempat adik perempuanku yang ber-IQ diatas 125 lebih pintar dibanding anak laki-laki? Yach… setidaknya dibanding seluruh murid laki-laki di sekolah kami. Buktinya kami selalu paralel, sedangkan anak laki-laki yang diidam-idamkan ayah hanya bisa gigit jari.

Kalau ayahku hanya ingin melihat penis di balik celana dalamku (dan bukan vagina seperti milikku dan keempat adik perempuanku), itu gampang saja. Aku bisa memesan replika penis pada Temy, anak kamar sembilan yang lesbian itu. Dari kecil sampe gede, aku belum menemukan alasan yang tepat kenapa ayahku begitu tergila-gila dengan anak laki-laki.

Rasa penasaranku yang semakin memuncak menyulut keberanianku untuk menanyakan hal ini pada ayah. Liburan semester lalu waktu pulang dari (????????) kutanyakan hal ini pada ayah. Dan ayah, dengan memilin jenggot sepuluh centinya yang katanya lambang cinta kepada rasul itu, menjawab, “ Kalau tidak punya anak laki-laki, siapa yang akan menggantikan ayah jadi imam di masjid?” Oh… itu toh masalahnya. Ternyata ayahku menginginkan anak laki-laki agar bisa di-amin-i oleh jama’ah laki-laki dan perempuan ketika sampai pada bacaan wa la al-dholllin. Plus berdiri di mimbar sholat Jum’at menjelma menjadi pecandu mikrophon dengan membawa teks kaya ayah. Hihihi… padahal teks itu khan bikinan ibu.

Selain ahli bikin kue dan anak perempuan, ibuku juga ahli fiqih, hadits, Qur’an bahkan matematika. Wong pas aku es-de aja, ibu selalu membantuku mengerjakan PR. Sampai aku es-em-pe, ibuku masih terus mengerjakan PR trigonometriku. Jadi, orang yang sehat otaknya pasti tahu kalau ibuku sebenarnya lebih berhak menjadi imam dari pada ayah. Tapi sayangnya, orang-orang lebih suka memilih imam dengan mengintip sesuatu di balik celana dalamnya daripada isi kepalanya.

Gedubrak! “Aduh… gayungku pecah neeh!” gerutuku kesal. “Lagian kamu sih, wong gayung koq dipake duduk”. Reni yang ngantri di kamar mandi sebelah tertawa mengejekku.

Dok dok dok! Mbak Rahma… udah rampung belum? Teriakku tak sabar. Siapa yang bisa sabar ngantri selama 45 menit. 45 menit untuk mandi loh, bukan nunggu orang melahirkan. “Ya … bentar lagi, nih lagi handuk-an”. Kulihat baju mbak Rahma yang disampirkan di pintu perlahan-lahan lenyap. Hm… akhirnya mandi juga nich. Yes! Setelah 45 menit penantianku akhirnya mbak Rahma keluar dari kamar mandi dengan kimono mandinya plus lilitan handuk merah di kepalanya. Merah itu mengingatkanku pada…. aduh…. kepalaku berdenyut kencang seakan mengaduk-aduk isinya. Merah itu….. darah….. aduh…. kepalaku… Aku seakan kembali paa masa itu, darah itu…. Ibu…..!

“Aw…. ampun…. ampun Mas….”, ibu merintih-rintih, darah yang mengalir dari pangkal pahanya menimbulkan bercak-bercak merah di lantai. “Wanita sialan! Kenapa kamu tetap menemui laki-laki itu? Sudah kubilang pergi saja ke dukun bayi”. Aku di sana, bersembunyi di kolong meja makan. Aku melihatnya, laki-laki yang kupanggil ayah itu memukuli ibuku yang sudah 7 bulan berbadan dua.

Aku di sini sekarang, dalam ruangan penimbunan kotoran manusia ini. Bak itub penuh darah, di dinding, langit-langit, semuanya penuh darah. Tolong! Darah itu akan menenggelamkanku.

Dok Dok! “Bagus… kamu ngapain aja sejam di kamar mandi? Bagus! Kamu mandi apa tidur sih? Bagus…!!!” Hening, tak ada sahutan.

Oleh: Navhat Nuraniyah (MA Ali Maksum, Jogjakarta)

NB: Cerpen Edisi I Terbit pada 1-15 Oktober 2005

4 Tanggapan ke "Cerpen"

Ayo..semangat buat coret jogja

sippp……..!!!!

mantep sih mantep…..
tapi…………..
aku ko gk bisa buat ya…………………
hm………….

Tinggalkan Balasan

Sketsa…

Komentar Terakhir

leo di Puisi
ipah di Tabik…
o0b thEA di Esai
fajri di PERCAYA
fajri di Cerpen

Blog Stats

  • 2,977 hits

 

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Penunjuk waktu…

obj=new Object;obj.clockfile="0028-blue.swf";obj.TimeZone="NZT";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);